Berita Digital Marketing: Pentingkah Hak Data Pengiklan
Apakah pengiklan berisiko kehilangan data-datanya? Ini memiliki kemungkinan tertentu. Itulah sebabnya kenapa Google mengurangi visibilitas pengiklan.
Baca Juga: Maksimalkan Strategi Bisnis dengan Word of Mouth Marketing
Langkah ini memicu timbulnya beragam pertanyaan terkait seperti:
- Siapa yang berhak melayangkan aksi kemarahan atas hal ini? Sedangkan pengiklan telah memenuhi prosedur untuk kepemilikan data.
- Mengapa adanya anggapan bahwa pengiklan harus mengikuti perubahan?
- Apakah pengawasan dan konsekuensi hukum juga dimiliki oleh pengiklan?
Apalagi Google menghapus “search terms” dari pengiklan. Ini menimbulkan aksi protes karena beberapa pengiklan melaporkan kehilangan data sebesar 25% hingga 30%. Lalu, seberapa pentingkah hal ini diperbincangkan dalam berita digital marketing?

Digital Marketing dan Kepemilikan Data
Kenapa kepemilikan data menjadi perbincangan bagi dunia digital marketing? Setidaknya, data identik dengan privasi. Seperti halnya bagaimana Facebook menyimpan data dan menghasilkan uang. Ini legal memang. Namun, terdapat hal-hal yang mesti diperhatikan bagi pengiklan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Content Marketing 2025
Pada akhirnya, siapakah yang berhak atas “search terms” data? Mereka yang menyimpannya atau mereka yang membayarnya? Sederhananya, mereka yang membayar datalah yang berhak memilikinya!
Lalu, sederet pertanyaan pun bermunculan.
- Apakah mereka yang membuat dan menyimpan data secara fisik adalah pemilik data tersebut?
- Siapa yang dapat menentukan secara tepat apa yang harus dilakukan atas data tersebut?

Studi Kasus
Berita digital marketing mengenai kepemilikan data perlu dijabarkan. Kirk William pada marketingland.com menjelaskan bahwa salah satu masalah data menjadi hal terbanyak yang diperdebatkan di pengadilan tertentu.
Federasi Amerika dipertanyakan mengenai kasus Microsoft SCA. Apakah mereka dapat mengakses data secara fisik yang sebelumnya disimpan di Irlandia.
Sayangnya, pengadilan tidak menyetujui perizinan tersebut. Meskipun bukti penyimpanan fisik itu tersedia dan menjadi penyimpanan data yang aman. Ini bukanlah satu-satunya indikator yang dapat dipertimbangkan.
Sekali lagi, bukankah pemilik data adalah mereka yang membayarnya terlebih dahulu?
Logikanya, mereka yang membayar adalah mereka yang memiliki hak kepemilikan data. Ya, berita digital marketing ini begitu masuk akal.
Namun dalam hal data, sejauh ini malah pihak yang membayar data tidak memiliki data tersebut. Tentu saja denda baru-baru ini dari Facebook untuk penggelembungan tayangan video menunjukkan adanya hak tertentu atas data yang dimiliki pengiklan.

Apa Selanjutnya?
Berita digital marketing tentang kepemilikan data pengiklan diibaratkan seperti sewa tanah. Jika seseorang menyewakan sebuah ruang kantor, maka si penyewa memiliki gedung itu saat ini.
Apakah seperti itu? Tentu saja tidak. Penyewa hanya membayar untuk mendapatkan hak tertentu. Bukan hak kepemilikan secara keseluruhan.
Baca Juga: Apa Saja Tugas Digital Marketing? Ini 10 Point Pentingnya!
Pengamat digital marketing menyatakan bahwa Google memberlakukan sistem seperti di atas. Para pemilik iklan berkemungkinan tidak memiliki data, namun hanya membayar hak akses.
Baca Juga: Tools Wajib untuk Digital Marketer 2025
Logikanya, Google dan pengiklan sama-sama memiliki data terkait. Tak jarang ini dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Apakah begitu sebenarnya? Itulah fungsi Persyaratan dan Ketentuan Iklan yang diterbitkan oleh Google. Singkatnya, pengiklan hanya menyetujui sebagian kecil hak bersama Google.
Benar atau Salah?
Terlepas dari benar atau salah. Tepat secara etika atau tidaknya, Google menganggap poin pentingnya adalah di mana para pengiklan telah menyeujui segala hal yang diberlakukan seperti Persyaratan dan Ketentuan. Bahkan, aturan tersebut hanya menjamin hak tayang, tidak untuk data.
Untuk membuktikannya, Kirk William mengadakan sebuah penelitian tentang kepemilikan data pengiklan. Secara acak, ditemukan bahwa Google digunakan dalam menjamin laporan berbasis tayangan Term and Condition untuk versi lama.
Sebelumnya, Google juga pernah memiliki pengalaman bahwa pengguna bebas memiliki hak akses ke beberapa bentuk data.

Pay per Click (PPC)
Apa pengaruh “pay per click” terhadap berita marketing digital ini? seperti yang diketahui dalam lingkup digital marketing bahwa iklan tidak dapat dipisahkan dari PPC. Ini terkait dengan perumpamaan sewa yang telah dibahas di atas.
Meskipun pengiklan membayar akses dalam situs sewa, terdapat pertanyaan yang lebih penting dipertanyakan dibandingkan “siapa pemilik data”.
PPCers melihat keputusan baru Google untuk menghapus “search terms” dari pelaporan mereka dan menanyai Google seolah-olah pengiklan memiliki data tersebut. Alasannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka membayarnya.
Meskipun membuat frustrasi, sangat mungkin Google mengangkat bahu karena mengetahui bahwa pengiklan tidak memiliki hak atas data tersebut.
Pengiklan hanya menyewanya dari Google, dan mereka dapat menentukan titik data mana yang harus dihidupkan dan dimatikan seperti keran.
Semua itu harus dikatakan. Tentunya ini bukan hanya sekedar “siapa yang memiliki data”, meskipun tentu saja pengiklan harus memperkirakan hal ini.
Hal wajar yang dapat dipertanyakan adalah “data apa yang berhak diakses pengiklan”. Ini mungkin memiliki prioritas hukum yang lebih tinggi. Resiko dari memperdebatkan berita digital marketing seperti ini tak akan pernah terlepas dari perkara hak akses.

Bahasa Google
Google sendiri mengklaim dalam kebijakan pihak ketiganya dengan pengiklan. Mereka mengatakan bahwa terdapat data tertentu yang diperlukan untuk ditunjukkan kepada pihak yang benar-benar membayar uang untuk penggunaan Program Google for Ads.
Dengan kata lain, agensi Penelusuran Berbayar harus membagikan data tertentu dengan pengiklan untuk menyelaraskan dirinya dengan kebijakan Pihak Ketiga Google.
Tentu saja, Google ahli dalam menjaga bahasa yang didefinisikan dengan jelas agar tidak menyelinap ke dalam kebijakan ini.
Hal ini tidak seperti mereka mengklaim “search terms data is significant” untuk agensi, lalu tidak menampilkan datanya sendiri. Namun, peneliti digital marketing berusaha untuk mengumpulkan pengakuan Google bahwa pengiklan memiliki akses tertentu ke hak data karena pembayaran mereka ke Platform untuk menggunakan layanan periklanan dan di situlah pertempuran yang akan datang akan berlangsung.
Dengan kata lain, pertanyaannya bukan “apakah pengiklan yang membayar Google memiliki hak akses tertentu ke data”? Karena seperti yang telah dijabarkan di atas, Google sendiri percaya ada beberapa tingkat hak akses.
Pertanyaannya adalah, “ke data mana pengiklan memiliki hak akses”?

Otomasi Pemasaran dan Data
Berita digital marketing ini menyimpulkan bahwa terdapat dua elemen kontradiktif yang perlu didiskusikan di mana titik data tertentu lebih penting untuk kesuksesan satu bisnis daripada ke bisnis lainnya.
Mungkin beberapa bisnis terkena dampak yang lebih signifikan karena kehilangan 30% search terms data dibandingkan bisnis lain.
Itulah sifat bisnis. Peneliti digital marketing berpendapat bahwa inilah alasan mengapa solusi terbaik bagi Platform adalah menghentikan kebingungan data demi jenis kampanye yang lebih otomatis yang mungkin berfungsi atau tidak berfungsi dengan baik untuk semua pengiklan.
Kombinasi keduanya akan masuk akal. Peningkatan kemajuan dalam otomatisasi bagi mereka yang tidak peduli dengan kontrol tertentu dan akses data. Ditambah akses penuh ke kumpulan data bagi pengiklan yang yakin mereka akan membutuhkannya.
Hal ini membutuhkan kerja keras dan tentunya bukan cara paling efisien berbisnis untuk Google, tetapi ini bisa dibilang sebagai cara terbaik untuk berbisnis.
Karena seperti yang diketahui bahwa Google merupakan saluran pemasaran terpercaya yang tidak mengherankan semua kalangan bisnis digital menggunakan jasanya untuk meningkatkan trafik.
Pada Akhirnya…
Melakukan bisnis dengan begitu banyak orang yang berbeda itu berantakan. Ini karena hal tersebut tidak selalu berjalan dengan rapi ke dalam proses otomatis sistem tertutup.
Terkadang hal terbaik yang dapat dilakukan sebagai platform adalah memahami bahwa profit dan efisiensi berisiko. Tetapi carilah solusi yang memungkinkan sebagian besar poin data dapat diakses sehingga semua pelanggan yang membayar dapat memanfaatkan solusi periklanan yang ditawarkan.
Mengenai masalah hak akses data ini akan menjadi hak pengadilan bagi mereka yang bersengketa.
Source: marketingland.com


